Jaga Stabilitas Harga Pangan Di Jakarta

Heru Geber Program Jual Sembako Murah

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono. (Foto: Antara)
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan akan terus berupaya menjaga stok dan stabilitas harga bahan pangan. Salah satunya, melalui Program Sembako Murah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Suharini Eliawati menuturkan, Pemprov DKI memiliki target untuk terus menjaga fluktuasi harga sepan­jang tahun 2024. Sehingga pada momen tertentu, saat permintaan meningkat, seperti saat hari be­sar keagamaan, pihaknya akan memastikan stok mencukupi dan harga terkendali.

Eli, sapaan Suharini menyam­paikan, harga sejumlah produk hortikultura di Jakarta pada minggu pertama Januari 2024 mengalami penurunan. Hal itu disebab­kan sejumlah daerah produsen sudah panen. Selain itu, Pemprov DKI ikut mengintervensi, meng­gelar penjualan sembako murah pada 15-16 Januari lalu di Kelu­rahan Duren Sawit, Penjaringan dan Gunung Sahari Utara.

“Kami melihat saat ini harga terkendali karena warga menda­patkan kebutuhan bahan pokok dengan harga murah,” ungkap­nya.

Dia menjelaskan, Program Sembako Murah akan terus di­laksanakan sesuai arahan Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono. Terlebih memasuki Ramadan dan Lebaran 2024. Banyak warga yang menyampaikan aspirasi agar Pemprov DKI me­nambah jenis produknya, seperti daging sapi, ayam dan telur.

“Menjelang Ramadan, kami akan menambah stok. Mudah-mudahan dengan banyaknya komoditas yang dijual dengan harga murah dan frekuensinya terus-menerus, akan menjadikan harga pangan di Jakarta semakin terkendali,” ujarnya.

Eli menyampaikan bahwa kegiatan penjualan sembako murah di Duren Sawit dan Pen­jaringan, disambut antusias oleh warga. Semua paket sembako murah dan satuan atau eceran yang disediakan habis terjual.

“Begitu pula kegiatan penjualan di Gunung Sahari Utara, warga mengantre untuk membeli semba­ko murah sejak pagi,” tuturnya.

Program Sembako Murah merupakan inisiasi Dinas KPKP yang bersinergi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan sektor swasta. Sembako murah yang dijual murah kepada masyarakat terbagi dalam bentuk paket dan satuan atau eceran.

Untuk bentuk paket, dijual Rp 100 ribu. Isinya, beras lima kilogram (kg), minyak goreng satu liter, gula pasir satu kg dan tepung terigu dua kg. Semen­tara untuk harga eceran, beras sebanyak 4 kg dijual hanya Rp 50 ribu, gula pasir satu kg Rp 15 ribu, dan minyak goreng dua liter Rp 25 ribu.

Senin (22/1) pagi, Pj Gubernur Heru didampingi Sekretaris Kota (Sekko) Jakarta Pusat, Iqbal Akbarudin meninjau kegiatan penjualan sembako murah di halaman Kantor Kelurahan Gu­nung Sahari Utara.

“Sembako murah seharga Rp 130 ribu dijual hanya Rp 100 ribu per paket. Ini membantu meringankan masyarakat mendapat­kan pangan murah,” ujar Heru saat melakukan peninjauan di Kantor Kelurahan Gunung Sahari Utara.

Heru memastikan penjualan sembako murah akan terus di­laksanakan hingga Hari Raya Lebaran 2024.

Heru berharap, selain dapat mengendalikan harga, Program Sembako Murah dirasakan lang­sung manfaatnya oleh warga.

“Harapan kami, fluktuasi harga di pasar relatif stabil, makanya kegiatan ini terus kita gencarkan,” ucapnya.

Anggota DPRD DKI Jakarta Wawan Suhawan mengapresiasi Program Sembako Murah. Program ini dapat meringankan beban masyarakat penerima manfaat.

Agar lebih tepat sasaran, Wawan meminta, Pemprov DKI Jakarta mengatur mekanisme pembeliannya agar program ini tidak dimanfaatkan oknum untuk menimbun dan menjual kembali sembako.

Anggota Komisi D ini menyarankan penjualan sembako murah diprioritaskan untuk war­ga miskin atau berpenghasilan rendah. “Pelaksanaannya harus tepat sasaran untuk orang-orang yang berhak dan dipermudah,” kata Wawan.

Salah satu caranya, menurut dia, setiap kelurahan mendata warga yang dinilai berhak mem­beli sembako murah, lalu mem­berikan kupon untuk ditukar.

Selain itu, dia meminta lokasi penjualan sembako murah tidak hanya dilakukan di lingkungan kantor kelurahan, namun di tingkat Rukun Warga (RW) atau di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

“Banyak masyarakat yang rumahnya jauh. Untuk sampai di kelurahan perlu naik kendaraan dan mengeluarkan ongkos,” tandasnya.

Harga Masih Mahal

Kendati disambut baik masyarakat, Program Sembako Murah, banyak mendapat kritik netizen. Isi paket yang dijual dalam Program Sembako Murah, masih dianggap kemahalan. Kritik disampaikan mereka di akun resmi Pemprov DKI, @dkijakarta.

“Kalau Rp 100k ukuran segitu mah sama saja, selisih berapa ribu doang,” kata @nurlaelaal­bantanyy.

“Harganya nggak jauh beda dengan di pasar, judulnya saja sembako murah, tapi bukan murah sih itu mah,” sentil @femi5674.

“Kalau Rp 100 ribu isinya itu doang sih bukan sembako murah, kalau di harga Rp 50 ribu barulah dibilang murah,” sahut @abiezaralhafizh.

“Kalau dirincikan, Minyak Kita 1 liter Rp 15.000, gula pasir 1 kg Rp 15.000, tepung terigu 2 kg Rp 20.000, beras 5 kg Rp 50.000. Berarti kan nggak beda jauh sama di pasar, kalo nggak Rp 100.000 tambahan kasih Indomie sama telur baru beneran murah,” beber @kim.yeoja29.https://tahapapun.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*